<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>SEJARAH INDONESIA DAN DUNIA</title>
	<atom:link href="http://jasmerah.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jasmerah.blog.com</link>
	<description>A Blog.com weblog</description>
	<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:38:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kuda Kuningan “Si Windu” atau “Winduhaji” ?</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/kuda-kuningan-%e2%80%9csi-windu%e2%80%9d-atau-%e2%80%9cwinduhaji%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/kuda-kuningan-%e2%80%9csi-windu%e2%80%9d-atau-%e2%80%9cwinduhaji%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[

<p>Dalam kisah Sejarah Kuningan telah diberitakan bahwa tokoh Syekh Maulana Arifin, yaitu putra dari Syekh Maulana Akbar, pernah memelihara peternakan jenis kuda yang selanjutnya berkembang dan terkenal menjadi KUDA KUNINGAN sekarang ini. Konon jenis/varian kuda kuningan pada abad XV itu adalah hasil blasteran antara kuda-kuda pilihan saat itu yang diantaranya didatangkan dari daerah Bima (Sumbawa) [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Dalam kisah Sejarah Kuningan telah diberitakan bahwa tokoh Syekh Maulana Arifin, yaitu putra dari Syekh Maulana Akbar, pernah memelihara peternakan jenis kuda yang selanjutnya berkembang dan terkenal menjadi KUDA KUNINGAN sekarang ini. Konon jenis/varian kuda kuningan pada abad XV itu adalah hasil blasteran antara kuda-kuda pilihan saat itu yang diantaranya didatangkan dari daerah Bima (Sumbawa) sehingga diperoleh jenis kuda yang kuat, bertenaga besar, tangguh, dan juga lincah/gesit. Seimbang dengan kelincahan &amp; kegesitannya itu makanya bentuk tubuh atau perawakan kuda itu memiliki bentuk fisiknya yang ideal yaitu bertubuh kecil, tetapi tidak terlalu kecil seperti kuda poni. Berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan induk semangnya dari Bima/Sumbawa yang “jangkung pangguh”. Pada waktu itu kuda-kuda dari Kuningan ini digunakan sebagai kuda tunggangan pemiliknya (semacam kendaraan pribadi), khususnya dimiliki oleh para pejabat kalangan istana/keraton, dan juga sebagai kuda tunggangan untuk berperang (kuda perang).</p>
<p>Salah satu kuda kuningan yang hebat pernah tercatat dalam sejarah Kuningan diantaranya bernama “Si Windu”. Kuda peliharaan Dipati Ewangga, seorang panglima pasukan dari Kuningan ini, pernah dipakai dalam perjalanan perang Sang Adipati Kuningan untuk bertempur membantu Cirebon menundukkan Galuh, Wiralodra (Indramayu), bahkan ke Sundakalapa menundukkan Portugis. Kegesitan dan kelincahan Si Windu terlihat ketika Sang Adipati Kuningan bertempur dengan Prabu Wiralodra yang menunggang gajah. Dengan ketangguhan dan kegesitan kuda “Si Windu” pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan Sang Adipati Kuningan.</p>
<p>Kisah heroik kuda kuningan dalam peperangan tersebut mencuatkan istilah /jargon pujian yang dikenal dengan “Kecil-kecil Kuda Kuningan”, yang artinya walaupun bertubuh kecil tetapi jangan dianggap enteng, dapat mengalahkan yang besar, karena ketangguhan dan kegesitannya itu. Bahkan jargon itu sekarang dapat diterapkan dalam pengertian luas, misalnya memberi “trade mark” bagi orang Kuningan yang berhasil sukses di perantauan, atau pujian dan sanjungan lainnya yang kiasannya sinonim dengan “kecil-kecil cabe rawit”.</p>
<p>Nama “Windu” yang terkenal itu akhirnya menjadi maskot daerah kuningan saat ini. Gambar kuda dijadikan logo maskot Kab. Kuningan. Itu sebabnya kota Kuningan dikenal pula dengan julukan “kota kuda”. Menurut sumber buku Cirebon (PS Sulendraningrat), ada nama lengkap kuda yang bersejarah ini. Namanya tidak hanya “Windu” tetapi “Winduhaji”. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ada kaitannya antara nama kuda “Windu” atau “Winduhaji” dengan nama Kelurahan Winduhaji yang sekarang eksis sebagai salah satu bentuk tatanan pemerintahan di Kec Kuningan ? Apakah pemberian nama Kelurahan Winduhaji adalah untuk memberikan kenangan sejarah, memberikan penghargaan/jasa terhadap kisah heroik kuda kuningan Si Windu” atau “Si Winduhaji” tersebut? Dan secara tidak sengaja muncul hipotesa: Mengapa orang-orang nomor 1 di Kuningan diantaranya muncul dari daerah-daerah yang bersejarah / berkaitan dengan sejarah di Kuningan, misalnya Luragung, dan kali ini Winduhaji. ????</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/kuda-kuningan-%e2%80%9csi-windu%e2%80%9d-atau-%e2%80%9cwinduhaji%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wilayah Kekuasaan Kerajaan Saunggalah Kuningan</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/wilayah-kekuasaan-kerajaan-saunggalah-kuningan/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/wilayah-kekuasaan-kerajaan-saunggalah-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[

<p>Penetapan wilayah kekuasaan Kerajaan Saunggalah dapat diketahui berdasarkan naskah Carita Parahiyangan (CP). Naskah tersebut diantaranya menyebutkan sekitar 13 daerah yang langsung menjadi wilayah kekuasaan Sang Seuweukarma atau Resiguru Demunawan, yaitu: Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pagergunung, Muladarma, dan Batutihang (Atja, 1968: 48). Banyaknya daerah yang dibawahkan oleh Kerajaan Saunggalah tersebut [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Penetapan wilayah kekuasaan Kerajaan Saunggalah dapat diketahui berdasarkan naskah Carita Parahiyangan (CP). Naskah tersebut diantaranya menyebutkan sekitar 13 daerah yang langsung menjadi wilayah kekuasaan Sang Seuweukarma atau Resiguru Demunawan, yaitu: Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pagergunung, Muladarma, dan Batutihang (Atja, 1968: 48). Banyaknya daerah yang dibawahkan oleh Kerajaan Saunggalah tersebut tidak lepas dari bantuan Batara Dangiang Guru yang telah menggabungkan daerah Kerajaan Galunggung ke dalamnya, untuk menambah wibawa atau kebesaran Kerajaan Saunggalah agar dapat menandingi kebesaran Kerajaan Galuh.</p>
<p>Wilayah kekuasaan Kerajaan Saunggalah di atas kalau ditelusuri sekarang, dengan memperhatikan panggung sejarah (setting historis) Kerajaan Saunggalah, adalah meliputi daerah Tasikmalaya ke Utara sampai ke wilayah Kabupaten Kuningan dan Cirebon atau bahkan sebagian Jawa Tengah bagian Barat. Bila pada abad ke-7 atau 8 Masehi sedang tumbuh tiga kerajaan utama di Jawa Barat (Galuh, Sunda, Saunggalah), maka daerah Kerajaan Saunggalah menempati wilayah Jawa Barat bagian Timur Laut, berbatasan dengan Kerajaan Galuh di sebelah Selatan dan dengan Kerajaan Sunda di sebelah Barat. Di sebelah Utara adalah perairan pantai utara Jawa, dan di sebelah Timur sedang tumbuh kekuasaan Kerajaan Kalingga yang seterusnya menjadi Kerajaan Medang Mataram. CP selanjutnya menyebutkan adanya Sungai Kuningan (Cikuningan) yang diperkirakan menjadi batas antara Kerajaan Saunggalah dengan Kerajaan Galuh. Namun nama Sungai Kuningan ini sekarang tidak pernah dijumpai sebagai nama sebuah sungai di Kabupaten Kuningan. Sungai yang saat itu diperkirakan mengalir di bagian selatan wilayah Kerajaan Saunggalah, sekarang mungkin yang sekarang disebut Sungai Cijolang yang menjadi batas daerah Kabupaten Kuningan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Ciamis. Untuk membuktikan dugaan ini, tentunya perlu penelitian yang lebih seksama.</p>
<p>Selanjutnya CP menyebutkan daerah-daerah yang mengakui kedudukan Demunawan di Saunggalah, yaitu: Keling, Puntang, Kahuripan, Wiru, Jawa, Balitar, Tuntang, Malayu, Kemir, Berawan, Cimaraupatah, dan Cina (Atja, 1968: 50). Kemungkinan berita CP itu tidak sepenuhnya benar-benar terjadi, melainkan hanya kerena ingin mengemukakan kebesaran raja Sang Seuweukarma. Namun bagaimanapun berita itu dapat dijadikan petunjuk bahwa betapa luasnya daerah kekuasaan Kerajaan Saunggalah.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/wilayah-kekuasaan-kerajaan-saunggalah-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintahan Setelah Sang Adipati Kuningan</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/pemerintahan-setelah-sang-adipati-kuningan/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/pemerintahan-setelah-sang-adipati-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[

<p>Menurut sumber tradisi Kuningan bahwa setelah Sang Adipati Kuningan meninggal dunia, ia digantikan oleh salah seorang putranya yang dikenal dengan julukan Geusan Ulun. Sumber lain menyebutkan bahwa Geusan Ulun Kuningan tersebut sebenarnya bernama Kusumajaya. Nama Geusan Ulun pada kurun waktu yang sama (sekitar abad XVI-XVII) juga dikenal di daerah lain yaitu Geusan Ulun Sumedang, yang [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Menurut sumber tradisi Kuningan bahwa setelah Sang Adipati Kuningan meninggal dunia, ia digantikan oleh salah seorang putranya yang dikenal dengan julukan Geusan Ulun. Sumber lain menyebutkan bahwa Geusan Ulun Kuningan tersebut sebenarnya bernama Kusumajaya. Nama Geusan Ulun pada kurun waktu yang sama (sekitar abad XVI-XVII) juga dikenal di daerah lain yaitu Geusan Ulun Sumedang, yang bernama Angkawijaya. Geusan Ulun pengganti Sang Adipati Kuningan ini diberitakan mempunyai banyak istri. Mungkin sekali perkawinan yang dilakukannya itu mempunyai arti politik. Wanita-wanita yang diperistrinya itu mungkin puteri-puteri dari tokoh-tokoh setempat yang mempunyai kedudukan penting atau berpengaruh di daerahnya. Diceriterakan bahwa Pangeran Geusan Ulun Kuningan mempunyai 40 putera-puteri, yang kebanyakan mendapat sebutan “Dalem”. Adapun nama ke-40 orang putera-puteri Geusan Ulun seperti dikenal dalam ceritera rakyat adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Dalem Mangkubumi, yang dimakamkan di Purwawinangun</p>
<p>2. Dalem Citangtu, dimakamkan di Desa Citangtu</p>
<p>3. Dalem Pasawahan</p>
<p>4. Dalem Panyilih</p>
<p>5. Dalem Koncang</p>
<p>6. Nyai Panembahan Girilaya</p>
<p>7. Dalem Aryajaya</p>
<p>8. Nyai Gedeng Anggadiraksa</p>
<p>9. Nyai Gedeng Jati</p>
<p>10. Dalem Kasturi</p>
<p>11. Dalem Dagojawa, dimakamkan di Purwawinangun</p>
<p>12. Nyai Kuwu Cirebon Girang</p>
<p>13. Adipati Ukur</p>
<p>14. Nyai Gedeng Panguragan</p>
<p>15. Dalem Winduherang, dimakamkan di Purwawinangun</p>
<p>16. Dalem Salahonje</p>
<p>17. Dalem Nayapati</p>
<p>18. Nyai Aria Salingsingan</p>
<p>19. Dalem Karawang</p>
<p>20. Dalem Amonggati (Somagati), dimakamkan di tepi Sungai Citamba</p>
<p>21. Dalem Cihideung</p>
<p>22. Dalem Cengal</p>
<p>23. Nyai Musti</p>
<p>24. Dalem Keko</p>
<p>25. Dipati Barangbang</p>
<p>26. Dalem Paduraksa</p>
<p>27. Dalem Cigugur</p>
<p>28. Dalem Tembong</p>
<p>29. Dalem Cikandang</p>
<p>30. Nyai Dalem Sumedang</p>
<p>31. Dalem Cibinuang, dimakamkan di Desa Cibinuang</p>
<p>32. Dalem Maruyung</p>
<p>33. Dalem Bolostrong</p>
<p>34. Dalem Tarka</p>
<p>35. Dalem Haurkuning</p>
<p>36. Dalem Wirajaya, dimakamkan di Kelurahan Kuningan</p>
<p>37. Dalem Mungku</p>
<p>38. Dalem Cigadung</p>
<p>39. Dalem Cageur</p>
<p>40. Dewi Ratna Cempaka</p>
<p>(Sumber : Tisnawerdaya dan Mansur, t.th: 16-17).</p>
<p>Dari nama diri atau julukan para putera Geusan Ulun itu dapat ditafsirkan bahwa sebagian besar dari mereka menjadi penguasa lokal atau menjadi istri penguasa lokal di wilayah Keadipatian Kuningan dan luar Kuningan. Beberapa orang puteranya disebut dengan julukan dalem yang diiringi dengan nama tempat kedudukannya. Dalem adalah julukan bagi seseorang yang pernah menjadi kepala pemerintahan di sebuah daerah tertentu.</p>
<p>Adapun putera tertua Geusan Ulun yang disebut Dalem Mangkubumi selanjutnya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati (di) Kuningan, tetapi dalam lingkup kekuasaan dan daerah yang lebih kecil. Bisa jadi ia mengkoordinir daerah-daerah lainnya yang diperintah oleh adik-adiknya. Kemungkinan Mangkubumi itu bukan nama diri, melainkan sebagai nama gelar atau julukan. Dalam susunan pemerintahan di Kerajaan Sunda, mangkubumi itu merupakan nama jabatan di bawah kedudukan raja yang bertugas menangani hal-hal yang bertalian dengan urusan tanah.</p>
<p>Sehubungan dengan tokoh Dalem Mangkubumi, terkait dengan nama Kebumen yang terletak di sebelah selatan Masjid Syiarul Islam sekarang. Lokasi tersebut adalah bekas tempat kedudukan Dalem Mangkubumi ketika memegang pemerintahan. Kata Kebumen dari ka-bumi-an yang bermakna lokasi atau tempat, menjadi kabumian lalu berubah menjadi kebumen. Kebumen mengandung arti tempat tinggal pemegang pemerintahan (mangkubumi). Memang kegiatan pemerintahan di daerah Kuningan dulu berpusat di sekitar alun-alun kota Kuningan (sekarang halaman Masjid Syiarul Islam Kuningan). Hal itu sesuai dengan konsep tata kota lokasi pusat pemerintahan menurut tradisi Cirebon. Bahwa pusat kota atau bangunan tempat kegiatan pemerintahan (keraton, pendopo kabupaten) terletak di sebelah selatan alun-alun, mesjid sebagai tempat ibadah di sebelah barat alun-alun, pasar sebagai tempat kegiatan perdagangan di sebelah utara alun-alun, dan penjara sebagai tempat tahanan penjahat di sebelah timur alun-alun. Demikianlah, Kebumen itu sejak masa lalu telah menjadi tempat kedudukan “penguasa Kuningan”, sampai akhirnya Kabupaten (ka-bupati-an/ tempat kedudukan bupati) ini pindah ke tempat sekarang (Jl. Siliwangi 88) yang tadinya merupakan tempat kediaman asisten residen pada masa Hindia Belanda.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/pemerintahan-setelah-sang-adipati-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri “Tempat-tempat Tua” dari Sejarah Kuningan</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/menelusuri-%e2%80%9ctempat-tempat-tua%e2%80%9d-dari-sejarah-kuningan/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/menelusuri-%e2%80%9ctempat-tempat-tua%e2%80%9d-dari-sejarah-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bila kita perhatikan nama-nama tempat yang disebut dalam sejarah kuningan, baik pada zaman kuna (Hindu Budha) ataupun zaman madya (Islam) ada beberapa nama tempat yang keberadaannya dapat kita telusuri atau kita ketahui, dan di lain pihak ada nama-nama tempat yang masih gelap di mana keberadaannya. Nama tempat yang dapat ditelusuri berkaitan karena nama tempat tersebut [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila kita perhatikan nama-nama tempat yang disebut dalam sejarah kuningan, baik pada zaman kuna (Hindu Budha) ataupun zaman madya (Islam) ada beberapa nama tempat yang keberadaannya dapat kita telusuri atau kita ketahui, dan di lain pihak ada nama-nama tempat yang masih gelap di mana keberadaannya. Nama tempat yang dapat ditelusuri berkaitan karena nama tempat tersebut masih ada atau masih dipakai sampai sekarang dalam bentuk nama sebuah desa/kelurahan, kampung/dusun, kota kecamatan atau nama lainnya yang terletak di wilayah Kabupaten Kuningan atau pun di luar Kab. Kuningan. Sedangkan yang belum diketahui keberadaannya tentunya menjadi perhatian kita semua, khususnya warga Kuningan, untuk mencari tahu (meneliti) di mana gerangan nama tempat tersebut berada. Untuk itu mari kita coba simak satu persatu tempat-tempat “tua” di Kuningan ini.</p>
<p><strong>I. Zaman Kuna (Hindu Budha)</strong></p>
<p>Mengutip dari sumber sejarah Carita Parahiyangan bahwa wilayah kekuasaan Kerajaan Saunggalah Kuningan meliputi beberapa daerah atau tempat, antara lain:</p>
<p>1. Layuwatang (konon Layuwatang sekarang yang disebut Desa Rajadanu di Kec. Japara Kuningan ?)</p>
<p>2. Kajaron (? ….. belum diketahui)</p>
<p>3. Kalanggara (? …..belum diketahui)</p>
<p>4. Pagerwesi (? ….. belum diketahui)</p>
<p>5. Rahasea (? ….. belum diketahui)</p>
<p>6. Kahuripan (apakah mungkin Desa Sangkanhurip … ?)</p>
<p>7. Sumajajah (? ….. belum diketahui)</p>
<p>8. Pasugihan (mungkin Lemah Sugih Majalengka ?)</p>
<p>9. Padurungan (? …. belum diketahui)</p>
<p>10. Darongdong (? ….. belum diketahui)</p>
<p>11. Pagergunung (? …. belum diketahui)</p>
<p>12. Muladarma (mungkin Desa Darma Kec. Darma ?)</p>
<p>13. Batutihang (? …. belum diketahui)</p>
<p>Selanjutnya CP menyebutkan daerah-daerah yang mengakui kedudukan Demunawan/Seuweukarma/Ranghyangtang Kuku di Saunggalah Kuningan, yaitu:</p>
<p>1. Keling (apakah Kerajaan Kalingga di Jateng ?)</p>
<p>2. Puntang (? …. belum diketahui)</p>
<p>3. Kahuripan (apakah Kerajaan Kahuripan di Jatim ?)</p>
<p>4. Wiru (? …. belum diketahui)</p>
<p>5. Jawa (nama pulau ?)</p>
<p>6. Balitar (sekarang nama kota Blitar di Jatim)</p>
<p>7. Tuntang (? …. belum diketahui)</p>
<p>8. Malayu (nama Kerajaan Melayu di Sumatera)</p>
<p>9. Kemir (? …. belum diketahui)</p>
<p>10. Berawan (? …. belum diketahui)</p>
<p>11. Cimaraupatah (? …. belum diketahui)</p>
<p>12. Cina (sekarang nama negara di Asia Timur)</p>
<p><strong>II. Zaman Madya (Islam)</strong></p>
<p>1. Luragung (nama Desa/Kecamatan Luragung Kng)</p>
<p>2. Bunihaji (nama tempat [?] di Luragung)</p>
<p>3. Winduherang (nama Desa Winduherang Kec. Kng)</p>
<p>4. Sidapurna (=menuju kesempurnaan : nama Dusun di Pwwnangun)</p>
<p>5. Purwawinangun (=yang pertama dibangun: nama Kelurahan di Kec Kng)</p>
<p>6. Cangkuang (nama Dusun di sebelah selatan SMPN 2 Kuningan)</p>
<p>7. Pasir Gulasagandu (di Luragung ?)</p>
<p>Dari kisah perjalanan Bujangga Manik pada abad ke-15 atau awal abad ke-16 diketahui bahwa tidak jauh di sebelah utara Gunung Ciremai terdapat daerah yang disebut:</p>
<p>1. Padabeunghar (Desa Padabeunghar Mandirancan ?)</p>
<p>2. Cijeruk-Manis (mungkin Desa Manis Jalaksana ?)</p>
<p>3. Coman (? …. belum diketahui)</p>
<p>4. Timbang (Desa Timbang Cilimus / Cigandamekar ?)</p>
<p>5. Hujung Barang (apakah mungkin Sindang Barang ?)</p>
<p>6. Kuningan (kota Kuningan sekarang)</p>
<p>7. Darma (Desa/Kec. Darma sekarang)</p>
<p>8. Pakuan (apakah sama dengan ibukota Kerajaan Sunda ????)</p>
<p>9. Luhur Agung (mungkin Desa/Kec. Luragung sekarang)</p>
<p>Selanjutnya berdasarkan nama-nama dari putera/puteri Geusan Ulun Kuningan yang disebut dengan julukan “Dalem” dan diikuti nama tempat kedudukannya, antara lain:</p>
<p>1. Dalem Mangkubumi (di daerah Kebumen sekitar Pasapen Kuningan)</p>
<p>2. Dalem Citangtu (nama Desa Citangtu Kec Kng)</p>
<p>3. Dalem Pasawahan (Pasawahan kini nama desa &amp; kecamatan)</p>
<p>4. Dalem Panyilih (? …. belum diketahui Panyilih ?)</p>
<p>5. Dalem Koncang (? …. belum diketahui Koncang ?)</p>
<p>6. Dalem Aryajaya (Aryajaya = nama diri?)</p>
<p>7. Dalem Kasturi (Kasturi sekarang nama Desa di Kec. Kng)</p>
<p>8. Dalem Dagojawa (Dagojawa nama tempat antara Cirebon-Sumedang)</p>
<p>9. Dalem Winduherang (Winduherang kini nama kelurahan di Kec. Kng)</p>
<p>10. Dalem Salahonje (Salahonje nama Desa seb. timur Desa Citangtu)</p>
<p>11. Dalem Nayapati (Nayapati = nama diri?)</p>
<p>12. Dalem Karawang (Karawang nama kabupaten di Jabar)</p>
<p>13. Dalem Amonggati (Amonggati = nama diri?)</p>
<p>14. Dalem Cihideung (Cihideung nama desa di Kec. Cidahu)</p>
<p>15. Dalem Cengal (Cengal nama desa di Kec. Japara)</p>
<p>16. Dalem Keko (? …)</p>
<p>17. Dalem Padurasa ( ?…)</p>
<p>18. Dalem Tembong (Tembong kini nama desa di Kec. Garawangi)</p>
<p>19. Dalem Cikandang (? …)</p>
<p>20. Dalem Cibinuang (Cibinuang sekarang nama desa di Kec. Kng)</p>
<p>21. Dalem Maruyung (nama tempat di Bandung Selatan ?)</p>
<p>22. Dalem Bolostrong (?….)</p>
<p>23. Dalem Tarka (?….)</p>
<p>24. Dalem Haurkuning (Haurkuning nama desa di Kec. Nusaherang)</p>
<p>25. Dalem Cigugur (Cigugur nama desa/kec. Cigugur)</p>
<p>26. Dalem Wirajaya (=nama diri)</p>
<p>27. Dalem Mungku (?…)</p>
<p>28. Dalem Cigadung (Cigadung kini nama desa di Kec. Cigugur)</p>
<p>29. Dalem Cageur (Cageur kini nama desa di Kec. Darma)</p>
<p>30. Adipati Ukur (di Priangan sebagai tokoh Bupati Ukur dan wedana bupati Priangan menjelang pertengahan abad ke-17)</p>
<p>31. Dipati Barangbang (?…)</p>
<p>32. s.d 40 nama-nama wanita, yang merupakan istri-istri dari para penguasa lokal Kuningan dan luar Kuningan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/menelusuri-%e2%80%9ctempat-tempat-tua%e2%80%9d-dari-sejarah-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Amanat dari Galunggung</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/amanat-dari-galunggung/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/amanat-dari-galunggung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[<p><em>Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna</em></p>
<p>(Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hana nguni hana mangke<br />
tan hana nguni tan hana mangke<br />
aya ma beuheula aya tu ayeuna<br />
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna<br />
hana tunggak hana watang<br />
tan hana tunggak tan hana watang<br />
hana ma tunggulna aya tu catangna</em></p>
<p>(Ada dahulu ada sekarang<br />
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang<br />
karena ada masa silam maka ada masa kini<br />
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini<br />
ada tonggak tentu ada batang<br />
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang<br />
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/amanat-dari-galunggung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kuningan “Masih Banyak Yang Gelapnya”</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/sejarah-kuningan-%e2%80%9cmasih-banyak-yang-gelapnya%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/sejarah-kuningan-%e2%80%9cmasih-banyak-yang-gelapnya%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[

<p>Menelusuri jejak sejarah Kuningan, yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan di Jawa Barat, ternyata masih menyisakan banyak “misteri” di dalamnya. Artinya masih ada sisi-sisi gelap dari ceritera sejarah Kuningan yang belum berhasil disibak, diungkapkan, dikemukakan kepada publik bagaimana sebenarnya Sejarah Kuningan yang kronologis dari A – Z secara paripurna, kumplit atau selengkapnya. Baik itu Sejarah Kuningan [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Menelusuri jejak sejarah Kuningan, yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan di Jawa Barat, ternyata masih menyisakan banyak “misteri” di dalamnya. Artinya masih ada sisi-sisi gelap dari ceritera sejarah Kuningan yang belum berhasil disibak, diungkapkan, dikemukakan kepada publik bagaimana sebenarnya Sejarah Kuningan yang kronologis dari A – Z secara paripurna, kumplit atau selengkapnya. Baik itu Sejarah Kuningan di zaman prasejarah, zaman kuna (Hindu-Budha), zaman madya (Islam), zaman baru/modern. Kecuali barangkali yang terakhir ini, pernah terbit buku “Perjuangan Revolusi Fisik Rakyat Kuningan” yang mengungkap sejarah zaman kolonial di Kuningan salah satu keberhasilan menguak salah satu tabir kegelapan sejarah Kuningan di era waktu yang lebih dekat ke arah kekinian.</p>
<p>Pemda Kab. Kuningan pernah menyimpan naskah hasil penelitian tentang Sejarah Kuningan yang disusun oleh team peneliti, Bpk Ahmad Dasuki dkk. Juga buku sejarah Kuningan yang pernah ditulis oleh Alm Bpk. Edi S. Ekadjati yang memberikan gambaran tentang Sejarah Kuningan dari hasil penelitian beliau berdasarkan sumber-sumber sejarah yang berhasil dikumpulkannya. Namun dari semuanya itu nampak &amp; memang diakui bahwa masih ada (bahkan banyak) sisi-sisi gelap yang belum berhasil disibakkan / dikuakkan tentang bagaimana sejarah itu sebenarnya terjadi, terutama Kuningan zaman lampau (purba, kuna, madya). Seperti halnya ada kesimpangsiuran mengenai suatu nama tokoh (Arya Kamuning/Adipati Kuningan/Adipati Ewangga), tempat (Arile/Kajene/Kadjaron?), terputusnya mata rantai genealogi, hierarki birokrasi/para penguasa, masalah waktu yang terkadang meloncat-loncat (abad 8 tiba-tiba berikutnya muncul di abad 11), dsb. Ini tentu saja membutuhkan perhatian lanjutan dari para pemerhati Sejarah Kuningan.</p>
<p>Sebab utama dari masih ada sisi gelapnya Sejarah Kuningan yang belum terungkap itu adalah karena sumber sejarahnya yang masih minim. Belum banyak sumber sejarah yang berhasil digali  tentang eksistensi Kuningan di masa lampau tersebut. Apakah sumber benda, sumber tertulis, sumber lisan, atau sumber rekaman. Sumber dalam negeri atau sumber luar negeri. Bahkan sumber sejarah Kuningan yang ada bahkan lebih cenderung banyak diambil dari sumber tradisional (tradisi lisan) yang banyak mengandung unsur mitos, dan sumber sastra sejarah yang notabene perlu disiangi lagi di dalamnya untuk mencapai tingkat kevalidan yang obyektif. Sejarah memang diharapkan yang obyektif, tetapi sulit menghindari unsur subyektifitas. Pekerjaan besar bagi masyarakat Kuningan, bagaimana berupaya mengungkap Sejarah Kuningan yang sesungguhnya secara lengkap.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/sejarah-kuningan-%e2%80%9cmasih-banyak-yang-gelapnya%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>“Suranggajaya” Mengapa Tidak Diabadikan ?</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/%e2%80%9csuranggajaya%e2%80%9d-mengapa-tidak-diabadikan/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/%e2%80%9csuranggajaya%e2%80%9d-mengapa-tidak-diabadikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:06:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[jaya]]></category>

		<category><![CDATA[kuningan]]></category>

		<category><![CDATA[surangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jasmerah.blog.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[

<p>Bila kita berjalan-jalan di seputar wilayah Kabupaten Kuningan, apakah berjalan-jalan di dalam kota Kuningan maupun di luar kota Kuningan (tiap kecamatan yang ada di Kuningan), sejauh yang penulis ketahui belum pernah rasanya menemukan nama suatu jalan di kota kab/kec/desa, gedung besar/kecil, rumah makan, hotel/penginapan, dan lain sebagainya menggunakan nama SURANGGAJAYA. Ada apa, dan mengapa bisa [...]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Bila kita berjalan-jalan di seputar wilayah Kabupaten Kuningan, apakah berjalan-jalan di dalam kota Kuningan maupun di luar kota Kuningan (tiap kecamatan yang ada di Kuningan), sejauh yang penulis ketahui belum pernah rasanya menemukan nama suatu jalan di kota kab/kec/desa, gedung besar/kecil, rumah makan, hotel/penginapan, dan lain sebagainya menggunakan nama SURANGGAJAYA. Ada apa, dan mengapa bisa terjadi demikian ? Nama besar Suranggajaya seolah-olah terlupakan, atau memang dilupakan ? Padahal beliau (Suranggajaya) itu adalah tokoh besar dalam sejarah kuningan, yakni beliau itulah yang disebut sebagai Sang Adipati Kuningan, pemimpin keadipatian Kuningan pada masa perkembangan Islam (abad XV – XVI).</p>
<p>Nama dari tokoh-tokoh bersejarah di Kuningan yang telah diabadikan namanya menjadi nama jalan, gedung, dsb hanyalah sebagian saja, dan itu pun tidak mewakili semua zaman. Yang ada kebanyakan mengambil nama tokoh bersejarah dari zaman madya dan baru (tokoh pahlawan revolusi/pahlawan nasional). Saya ambil contoh dari tokoh bersejarah Kuningan yang mewakili dari zaman madya misalnya, yang telah diabadikan itu antara lain: Langlangbuana (dibadikan nama jalan di perempatan Citamba kota Kuningan ke seb. timur), Selawati (dibadikan nama jalan di sebelah barat masjid Syiarul Islam), Arya Kamuning (diabadikan nama jalan di seputar taman kota kuningan/gelanggang pemuda), Dipati Ewangga (diabadikan menjadi nama gedung olah raga/GOR sebelah timur pendopo kab. Kng), Syekh Maulana Akbar (diabadikan nama jalan di perempatan Citamba ke seb. barat), Ramajaksa (diabadikan nama jalan di Winduherang [?]).</p>
<p>Sementara nama tokoh bersejarah di Kuningan yang belum diabadikan namanya, yang berasal dari tokoh sejarah zaman kuna dan madya adalah: Wiragati (Sang Pandawa), Sang Wulan, Sang Tumanggal, Demunawan/Seuweukarma/Ranghyangtang Kuku, Cakrawati (ayahnya Langlangbuana), Mayangsari &amp; Mayangkuning (putrinya Langlangbuana &amp; Ibundanya Selawati cs), Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung), Nyi Ageng Larasati (istrinya Jayaraksa), Selawiyana &amp; Dipawiyana (putranya Arya Kamuning), <strong>Suranggajaya (Sang Adipati Kuningan)</strong>, Syekh Maulana Arifin (putranya Sy M. Akbar), Kencanawati (putrinya Sy M. Arifin + Selawati, juga istrinya Suranggajaya), Kusumajaya (Geusan Ulun Kuningan), dst (para putranya Geusan Ulun Kng).</p>
<p>Perlu perhatian kita semua, khususnya warga Kuningan, untuk mengenal lebih dekat dengan nama-nama tokoh bersejarah dari Kuningan dari setiap zamannya. Termasuk juga mensosialisasikannya dengan mengabadikan nama-nama mereka menjadi nama jalan atau gedung, dsb agar generasi kita dan yang akan datang mengenal tokoh-tokoh yang dimaksudkan di atas. Bahwa o’ inilah nama-nama tokoh nenek moyang orang Kuningan yang pernah berkiprah &amp; berjasa di Kuningan sesuai konteks zamannya.</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/%e2%80%9csuranggajaya%e2%80%9d-mengapa-tidak-diabadikan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>My first post!</title>
		<link>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/hello-world/</link>
		<comments>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:02:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jingga_prana</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://blog.com/">Blog.com</a>. </p>
<p>This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging!</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://blog.com/">Blog.com</a>. </p>
<p>This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jasmerah.blog.com/2009/11/06/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
